Saya tdk suka pake Anting-anting, Ibuuuu...

Alhamdulillah, sampai sekarang masih di beri umur, kesehatan + rezki, jadi masih bisa Pulkam ke kampung halaman tercinta di Pinrang (Sebuah kabupaten yang jaraknya sekitar 4-5 jam dari Kota Makassar) untuk tahun baru bersama keluarga tercinta khususnya Ibu ku tersayang. Sore tadi saya berbincang-bincang bersama ibu, menceritakan tentang pekerjaan saya, teman-teman saya & segala aktivitas saya selama di Makassar. Asyik-asyiknya ngobroL, ibu memperhatikan teLinga saya, Saya bertanya:
"Kenapa Bu...?"
"Kamu tidak pakai anting-anting sampai sekarang?"
"Ibu ‘kan tau saya alergi  pakai anting-anting."
Dan perdebatan pun terjadi yang di akhiri tanpa ada solusi & tanpa ada yang mau mengalah. Selalu & selalu begitu.
Yach, semenjak saya melepas anting-anting saya yang sedari kecil saya pakai (waktu itu saya sudah SMP, jadi maklum anting-anting saya lepas, karna sudah terlalu kecil untuk ukuran saya & sudah jadul, katanya ibu), ibu memang selalu membujuk saya memakai anting-anting, katanya :
¤Perempuan itu harus pakai anting-anting,
(Tidak harus 'kan...?)
¤Perempuan terlihat cantik kalau pakai anting-anting
(Kalau dasarnya cantik, tidak pakai anting-anting juga tetap cantik)
¤Wajah kita terlihat bercahaya kalau pakai anting-anting
(Habis wudhu baru tidak pakai anting-anting tetap bercahaya)
¤Nanti lubang telinganya bisa tertutup, sakit lagi kalau mau di tusuk
(Yach...,siapa juga mau tusuk lagi, 'kan ada anting-anting magnet)
¤Kalau pengantin nanti harus pakai anting-anting
(Ya, nanti kalau sudah mau pengantin baru pakai)anting-anting. Ribet amat, Amat aja gak ribet)
Dan tidak jarang ibu memaksa saya memakai anting-anting, entah itu anting-anting miliknya yang ia berikan secara cuma-cuma, dan saya tolak karna tidak enak, nanti ibu pakai apa...? Alasan...alasan...alasan, hehehe...,
Ataupun anting-anting yang ia belikan.
Sampai-sampai pernah suatu hari waktu saya menemani ibu ke pasar (saat itu saya sudah kuliah), saya minta di belikan cincin emas sama ibu, ibu mengiyakan, & akhirnya menujulah kami ke toko emas. Tiba di toko emas, saya sibuk mencari model cincin yang bagus, dan ibu sibuk mencari anting-anting, pikirku anting-anting itu untuk dia, ternyata untuk saya. Ibu awalnya membujuk, saya menolak secara halus, ibu merayu, saya tetap menolak, akhirnya ibu memaksa & saya mengalah (takut kualat). Akhirnya saya mencoba satu persatu anting-anting yang di pilih ibu, dari yang model sedehana sampai yang melambai-lambai. Ampun...!!
S
aya menangis,
Pertama : Karna kesakitan,
Kedua : Karna sakit hati, ternyata saya di jebak. Hikz...hikz..hikz..!!
Akhirnya kami pulang dengan sepasang anting-anting bayi yang di beli ibu dengan harga yang tidak lebih dari harga peralatan make_up saya selama sebulan. Ibu mengalah soal model & ukuran, katanya yang penting sekarang saya pakai anting-anting dengan harapan nanti saya akan mengganti dengan yang lebih besar. Amin....,
Tiba di rumah, te
linga saya sudah gatal, ibu memberikan saya minyak gosok, katanya, :
"Memang kal
au baru pakai anting-anting lagi, memang gatal, sabar saja nanti berhenti sendiri".
Ibu tidak berhenti menyemangati + mengusap_usap telinga saya dengan minyak gosok, tapi telinga saya semakin gatal dan lama-lama muncullah luka & bengkak. Sakit sekali tapi saya senang karna akhirnya anting-anting itu terlepas juga dari telinga saya. Setelah beberapa hari, saya ingin ke Makassar, Eh...ibu tidak lupa kalau saya punya anting-anting, & menyuruh saya memakainya lagi.
"Itu telingamu sudah sembuh, pakai  lagi anting-antingnya. Berikan  dulu minyak gosok baru di pakai supaya tidak gatal-gatal, Bla...bla..bla..."
Dan demi keamanan bersama saya menaati perintah Beliau.
Tiba di Makssar, saya melepas anting-anting itu. Berhari-hari tersimpan rapi di laci saya. Pikirku, daripada cuman tinggal di laci, tidak ada gunanya, mending di jual. Nach, berhubung Tante saya mau ke toko Emas, saya titiplah anting-anting saya itu. Dan hasilnya tante saya pulang dan memberi saya uang hasil  jual anting-anting saya itu, yang harganya tidak lebih dari harga tiket masuk Trans Studio.
Beberapa lama berselang, saya Pulkam lagi, tanpa anting-anting, ibu bertanya, & saya menjawab, anting-antingnya sudah saya jual. Semenjak itu, ibu tidak pernah lagi membelikan saya anting-anting.
KAPOK...
Rugi Bandar katanya.
Hehehe...

0 Response to "Saya tdk suka pake Anting-anting, Ibuuuu..."

Posting Komentar