Ini cerita sekitar 3 tahun yang lalu. Selang 1 bulan kelulusan saya dari bangku kuliah, pendaftaran CPNS di buka. Teman-teman mulai heboh + sibuk mengurus ini itu sebagai kelengkapan berkas mereka.
Saya...? Yach, karna sahabat2 saya juga sibuk, saya juga ikut-ikutan, meski tak ada minat.
Saat itu kami memilih mendaftar di Makassar.
Saat itu kami memilih mendaftar di Makassar.
Saat sahabat-sahabat sibuk mempersiapkan diri u/ tes keesokan harinya dengan membeli buku, belajar, bahkan beLa-belain beli buku khusus Cara mudah lulus Cpns, saya sibuk mempersiapkan diri dengan baju baru saya untuk di pakai esok harinya.
Yang penting Gaya.
Yang penting Gaya.
Hehehehe....
Tiba hari Tes, saya & sahabat2 bergegas ke Tempat tes, yang jaraknya jauh dari tempat tinggal kami, (dari Perumnas Antang ke Karebosi )sebenarnya bisa di tempuh dengan waktu yang singkat jika kami mengendarai sepeda motor, tapi berhubung sepeda motor hanya 1, & kami bertiga, akhirnya kami memilih untuk naik pete2 (angkot).
Tiba hari Tes, saya & sahabat2 bergegas ke Tempat tes, yang jaraknya jauh dari tempat tinggal kami, (dari Perumnas Antang ke Karebosi )sebenarnya bisa di tempuh dengan waktu yang singkat jika kami mengendarai sepeda motor, tapi berhubung sepeda motor hanya 1, & kami bertiga, akhirnya kami memilih untuk naik pete2 (angkot).
Maklum di pagi hari, orang-orang ke kantor, sekolah, dll..,jalanan jadi MACET.
Sudah setengah jam kami di Pete-pete, kami tak jua sampai di tujuan, sms teman-teman yang sudah tiba di tempat tujuan, mengatakan kalau tes sudah mau di mulai, sahabat saya muLai uring-uringan, akhirnya kami memilih naik taksi. SeteLah 1/2 jam perjalanan, kami pun tiba. Dan sialnya, pagarnya ( waktu itu kami tes di SD dekat karebosi) sudah di tutup,karna tes sudah di mulai, kata satpam + polisi yang menjaga, kami TERLAMBAT. Sahabat saya mulai berkaca-kaca, bagaimana tidak, sudah 2 hari dia terbaring di tempat tidur karna sakit, & karna tes ini dia memaksakan diri u/ ikut, katanya sekali setahun. Saya kasihan sama dia, saya pun mengemis u/ di persilahkan masuk, tapi kata panitia kami sudah terlambat. Padahal saya sempat menyaksikan teman2 yang berada di ruangan, masih menunggu lembar soal. Aaaaaaaaaaarrrgghh..,begitu susahnya tolernsi + kebijaksnaan itu.
Alhasil, kami memilih pulang, sahabat saya menangis sepanjang jalan.
Saya mencoba menghibur dengan kata-kata
Sudah setengah jam kami di Pete-pete, kami tak jua sampai di tujuan, sms teman-teman yang sudah tiba di tempat tujuan, mengatakan kalau tes sudah mau di mulai, sahabat saya muLai uring-uringan, akhirnya kami memilih naik taksi. SeteLah 1/2 jam perjalanan, kami pun tiba. Dan sialnya, pagarnya ( waktu itu kami tes di SD dekat karebosi) sudah di tutup,karna tes sudah di mulai, kata satpam + polisi yang menjaga, kami TERLAMBAT. Sahabat saya mulai berkaca-kaca, bagaimana tidak, sudah 2 hari dia terbaring di tempat tidur karna sakit, & karna tes ini dia memaksakan diri u/ ikut, katanya sekali setahun. Saya kasihan sama dia, saya pun mengemis u/ di persilahkan masuk, tapi kata panitia kami sudah terlambat. Padahal saya sempat menyaksikan teman2 yang berada di ruangan, masih menunggu lembar soal. Aaaaaaaaaaarrrgghh..,begitu susahnya tolernsi + kebijaksnaan itu.
Alhasil, kami memilih pulang, sahabat saya menangis sepanjang jalan.
Saya mencoba menghibur dengan kata-kata
"Bukan rejeki”
‘Ada hikmahnya",
"Santai saja",
Bla...bla...bla..,
Sahabat saya itu hanya meminta saya untuk tidak mengatakan kepada siapapun khususnya kepada orang tua kami, tentang kegagalan kami mengikuti tes. Cukup berat bagi saya menyimpan rahasia itu , apalagi saat hari pengumuman, Ayah sibuk mencari Koran untuk melihat nama saya. Saya hanya diam, kasihan Ayah, mencari nama yang tidak mungkin ada di pengumuman itu. Dan saya melihat di Koran, dari sekian banyak teman saya yang mendafatr di Makassar, hanya ada 1 teman kuliah kami yang lulus, tapi tidak ada satupun teman kami yang tes di tempat kami (di SD itu) yang lulus.
Sahabat saya itu hanya meminta saya untuk tidak mengatakan kepada siapapun khususnya kepada orang tua kami, tentang kegagalan kami mengikuti tes. Cukup berat bagi saya menyimpan rahasia itu , apalagi saat hari pengumuman, Ayah sibuk mencari Koran untuk melihat nama saya. Saya hanya diam, kasihan Ayah, mencari nama yang tidak mungkin ada di pengumuman itu. Dan saya melihat di Koran, dari sekian banyak teman saya yang mendafatr di Makassar, hanya ada 1 teman kuliah kami yang lulus, tapi tidak ada satupun teman kami yang tes di tempat kami (di SD itu) yang lulus.
Setahun setelah penerimaan CPNS, pendaftaran kembali di buka. Karna status masih kontrak semua sahabat-sahabat saya kembali ikut tes CPNS, kali ini tidak tanggung-tanggung, dari pendaftaran di kampung halaman sendri, sampai kampung halaman orang lain (di daerah2 lain maksudnya) mereka ikuti. Dan saya...,u/ saat ini memilih u/ tidak mendaftar. Bukan karna saya sudah jadi PNS, tapi yach...,berbagai alasan yang buat saya memilih jadi tenaga kontrak saja u/ saat ini meski tak jarang orang2 seakan memandang sebelah mata jika tahu status kerja saya, kata mereka
"Ooo,..,masih kontrak...? Semoga cepat terangkat yach jd PNS.
Kata-kata yang bermakna doa tapi juga sedikit sindiran + remehan.
Uh, sedikit kesal mendengar perkataan seperti itu.
Memangnya pegawai kontrak tidak di Gaji seperti PNS....?
Pada saat pendaftaran CPNS kali ini, alhamdulillah saya sudah bekerja di salah satu RS yang ada di Makassar, sebagai tenaga Kontrak. Meski tak ada larangan mendaftar CPNS, tapi saya memilih tidak mendaftar. Teman2 di tempat kerja saya heran & menanggapi keputusan saya, kata mereka :
Memangnya pegawai kontrak tidak di Gaji seperti PNS....?
Pada saat pendaftaran CPNS kali ini, alhamdulillah saya sudah bekerja di salah satu RS yang ada di Makassar, sebagai tenaga Kontrak. Meski tak ada larangan mendaftar CPNS, tapi saya memilih tidak mendaftar. Teman2 di tempat kerja saya heran & menanggapi keputusan saya, kata mereka :
"Bodo'nya tidak mendaftar, skali setahun ini",
"Astgaaaaa, kamu tidak mau jadi PNS, apa paeng gunamu kuliah...?"
Bla...bla...bla...,
Saya menanggapi bahwa saya hanya ingin kerja sementara karna nanti jika sudah berkeluarga saya ingin focus mengurus keluarga di rumah, jadi ibu rumah tangga yang baik. Sebagian teman menanggapi bahwa sudah tidak jaman jadi ibu rumah tangga, jaman sekarang perempuan itu harus punya penghasilan sendiri, mandiri, tidak bergantung pada suami, tapi bagi saya keluarga itu segalanya, dan waktu itu lebih berharga daripada materi.
Bla...bla...bla...,
Saya menanggapi bahwa saya hanya ingin kerja sementara karna nanti jika sudah berkeluarga saya ingin focus mengurus keluarga di rumah, jadi ibu rumah tangga yang baik. Sebagian teman menanggapi bahwa sudah tidak jaman jadi ibu rumah tangga, jaman sekarang perempuan itu harus punya penghasilan sendiri, mandiri, tidak bergantung pada suami, tapi bagi saya keluarga itu segalanya, dan waktu itu lebih berharga daripada materi.
Dan hari berganti hari, minggu berganti minggu, hingga berganti bulan, akhirnya pengumuman itu keluar & di cantumkan di koran.
Pagi itu teman2 smua sibuk, mencari koran, & saya yakin yang paling makmur hari itu adalah penjual koran, lihat saja di RS pagi itu, penjual koran seperti artis yang di kejar2 fans2 fanatiknya. Tidak hanya para CPNS, teman si CPNS, keluarga si CPNS, tetangga si CPNS, smua membeli koran (hehehe...).
Pagi itu dengan seksama, teman2 mencari nama mereka 1/1, & alhasil tak satupun yg lulus.
Hari itu juga silih berganti orang2 menanyakan kelulusan saya, bahkan ada yang dengan sengaja membeli koran u/ melihat nama saya, jadi terharu..., (eh...1 lagi yang sibuk membeli koran adalah kekasih Si CPNS, hehehe...). Katanya :
Pagi itu dengan seksama, teman2 mencari nama mereka 1/1, & alhasil tak satupun yg lulus.
Hari itu juga silih berganti orang2 menanyakan kelulusan saya, bahkan ada yang dengan sengaja membeli koran u/ melihat nama saya, jadi terharu..., (eh...1 lagi yang sibuk membeli koran adalah kekasih Si CPNS, hehehe...). Katanya :
"Nama mu tidak ada di koran, sabar yach".
Sy jawab : "Sampai beruban pun kamu cari, tidak bakalan dapat, saya tidak mendaftar".
Dan beberapa hari kemudian salah satu sahabat saya yang juga kerja di RS yang sama dengan saya memberi tahu kalau sahabat kami (yang tahun lalu sakit saat tes CPNS & menangis karna tidak sempat ikut tes) ternyata Lulus (di salah satu kota di Makassar). ALhamduLiLLah..
Dan beberapa hari kemudian salah satu sahabat saya yang juga kerja di RS yang sama dengan saya memberi tahu kalau sahabat kami (yang tahun lalu sakit saat tes CPNS & menangis karna tidak sempat ikut tes) ternyata Lulus (di salah satu kota di Makassar). ALhamduLiLLah..
Saya akhirnya konfirmasi dengan sahabat saya itu, & dia bilang sengaja tidak memberitahu kelulusannya, sampai saat ia mendaftar di kota tempat ia luluspun tak ada yang tau.
Takutnya seperti tahun lalu, terlalu bersemangat, baru mendaftar saja sudah bangga setengah mati, padahal ujung-ujungnya mati sebelum berperang.
Hehehe.....
Hehehe.....

0 Response to "PNS oh PNS"
Posting Komentar