...Makassar is BeautifuL...

Wowwww...,
semuanya MERAH. lampu-la,pu hias jalan raya sepanjang jalan Maccini, lampu-lampu hias + rumah warga Tionghoa di jln. Sulawesi, Kantor Telkomsel di Fajar Garaha Pena, Matahari di Mal Panakkukang, trotoar di sepanjang jln Perintis, KFC di RatuLangi, Studio 21 di M'tos, UNHAS, Halte STMIK & Kamar ku, Hehehe...,Semuanya Merah.

Ada lagi...,
Lampu merah + rambu-rambu lalu lintas lainnya, juga MERAH.

Eh,..Ada lagi....,
mobil, motor, bentor, becak yang berwarna merah lalu-lalang menghiasi jalan raya kota Makassar.

Dan lagi..., orang-orang yang memakai baju, celana, tas, sepatu, aksesoris merah
(Semuanya)...,
I Love u aLL....

And
Makassar I Love u FuLL...

Saya tdk suka pake Anting-anting, Ibuuuu...

Alhamdulillah, sampai sekarang masih di beri umur, kesehatan + rezki, jadi masih bisa Pulkam ke kampung halaman tercinta di Pinrang (Sebuah kabupaten yang jaraknya sekitar 4-5 jam dari Kota Makassar) untuk tahun baru bersama keluarga tercinta khususnya Ibu ku tersayang. Sore tadi saya berbincang-bincang bersama ibu, menceritakan tentang pekerjaan saya, teman-teman saya & segala aktivitas saya selama di Makassar. Asyik-asyiknya ngobroL, ibu memperhatikan teLinga saya, Saya bertanya:
"Kenapa Bu...?"
"Kamu tidak pakai anting-anting sampai sekarang?"
"Ibu ‘kan tau saya alergi  pakai anting-anting."

PNS oh PNS

Ini cerita sekitar 3 tahun yang lalu. Selang 1 bulan kelulusan saya dari bangku kuliah, pendaftaran CPNS di buka. Teman-teman mulai heboh + sibuk mengurus ini itu sebagai kelengkapan berkas mereka.
Saya...? Yach, karna sahabat2 saya juga sibuk, saya juga ikut-ikutan, meski tak ada minat.
Saat i
tu kami memilih mendaftar di Makassar.
Saat sahabat-sahabat sibuk mempersiapkan diri u/ tes keesokan harinya dengan membeli buku, belajar, bahkan beLa-belain beli buku khusus Cara mudah lulus Cpns, saya sibuk mempersiapkan diri dengan baju baru saya untuk di pakai esok harinya.
Y
ang penting Gaya.
Hehehehe....

MERAH

Entah dari mana dan sejak kapan, diriku menjadi si fanatic warna merah. Aku tak tahu apa yang di miliki si merah hingga aku tergila-gila padanya. Baju, sepatu, tas, celana, aksesoris-aksesoris, sungguh barang-barang yang tak bisa aku bendung untuk memilikinya, meski sering kali harga barang-barang tersebut melebihi isi dompetku yang juga berwarna merah.
Seisi kamarku berwarna merah, mulai dari cat kamar, kasur, rak buku, hingga alat-alat kosmetik aku pilih karna warnanya yang merah, sampai-sampai ibu, kakak, atau siapapun yang menginjakkan kaki di kamarku, pasti akan berkomentar,
“Tinggal asapnya aja yang gak ada”
“Hati-hati, kalau di lihat pemadam kebakaran, bisa di semprot air”
“ Awas di sambar petir”
“Atau di lihat banteng”

Saya & Om jamaL + VespaNya

KaLau saya Lihat motor Vespa, saya langsung teringat dengan Om jamal saya. Ya, dulu ia memiLiki sebuah Vespa yang slalu menemaninya kemanapun ia berada. Beliau adalah seorang guru Bahasa.Inggris di SMA 1 Tiroang di Kab.Pinrang. Beliau begitu sabar & baik hati. Kenangan naik motor Vespa bersama Beliau itu sekitar 11 tahun yang lalu, saat itu saya & Beliau berboncengan dengan Vespa dari Pinrang menuju Makassar. Waktu itu musim liburan, saudara-saudara & keluarga yang lain sudah berangkat di hari sebelumnya, tapi karna beliau ada urusan & saya tidak ingin naik mobil (waktu itu saya masih mabuk darat, jadi kalau perjalanan jauh, saya lebih memilih naik sepeda motor, tapi tetap di Bonceng. Hehehe...), alhasil saya & beliau berangkat bersama-sama. Kami berangkat di subuh hari, awal perjalanan masih terasa nyaman, apalgi suasana di subuh hari, sejuk & jalanan yang sepi. Beberapa kali kami singgah untuk BAK (buang air kecil).