Hujan turun….,banyak sekali orang yang mengeluh, basahlah, beceklah, dingin, ibu rumah tangga mengeluh cucian gak kering-kering, yang mengendarai sepeda motor mengeluh karna kemana-mana harus bawa mantel, karyawan mengeluh telat ke kantor, macet, harus sedia payung setiap saat. Intinya ribet, kalau hujan turun. Nach itu bagi kebanyakan orang, tapi bagi saya pribadi, tidak ada masalah, selama itu masih hujan air, kalau hujan batu…., ya itu baru ribet. Lagian apa susahnya juga kalau hujan turun trus kita mau bepergian…? Ke kantor misalnya, Tinggal ambil payung, bawa mantel, berangkat dech. Gampang ‘kan? atau gak usah pake payung, bisa langsung naik di angkot, becak, atau bentor, nach semuanya itu ‘kan terhindar dari air hujan plus murah, paling kalau kena cuma cepretan air itupun cuman dikit. Masalah telat ke kantor karna hujan…,itu alasan yang memang di inginkan. ‘kan lebih enak tidur saat hujan apalagi di pagi hari.
Nach, aku juga paling jengkel kalau mau mengajak kakak ku ke mall dan dia menolak karna hujan. Akupun mengejek,
“Emang susah sich kalau cantiknya gak permanen, kena air dikit, luntur dech”
. Dan dengan begitu kakakku langsung mengiyakan ajakanku.
Nach, aku juga paling jengkel kalau mau mengajak kakak ku ke mall dan dia menolak karna hujan. Akupun mengejek,
“Emang susah sich kalau cantiknya gak permanen, kena air dikit, luntur dech”
. Dan dengan begitu kakakku langsung mengiyakan ajakanku.
Dari kecil aku sangat menyukai hujan, hingga beranjak dewasapun kebiasaan ku bermain hujan-hujanan tetap aku lakonin meski tak sedikit yang mengejek, katanya masa kecil kurang bahagia. Ya terserah.
Bahkan ibu tak berhenti menasehati, nanti kamu bisa sakit, yang selalu aku jawab : dari kecil aku main hujan, aku gak pernah sakit karna main hujan ‘kan bu…?. Ibu hanya menghela napas panjang. Pasrah.
Ayahku pun tak jarang memarahiku melihat kebiasaanku ini, katanya :
“Apa kamu tidak takut sakit…?
yang aku jawab, ” Gak ada manusia mati karna kena air hujan Ayah”.
Atau katanya aku sudah besar, sudah tua malah, sudah punya anak dan anakku nanti ikut-ikutan kebiasaan burukku itu,
Kataku : “Bagus dong, biar dia kebal air hujan, gak gampang sakit.”
Ah, alasan yang mengada-ngada memang. Dan ia pun akhirnya pasrah.
Pernah suatu hari saat suamiku pulang dari kantor pada malam harinya, anakku tiba-tiba demam, aku berusaha menutupi, tapi suami tetap saja mengorek informasi, akhirnya aku jujur kalau seharian tadi kami bermain hujan-hujanan di taman belakang rumah. Suamiku marah besar dan menyalahkanku, aku pun merasa bersalah karna mengajari kebiasaan yang tidak baikku ini. Hingga 3 hari anakku demam…,anakku pun sembuh dan hujan tetap turun. Aku hanya bisa menahan hasrat dari balik jendela menyaksikan rintik-rintik hujan yang seakan memanggilku untuk berlari, berloncat riang di bawah butiran-butirannya. Ah, lebai.
Aku masih ingat kata-kata dosen aku saat aku masih kuliah dulu, katanya apa yang engkau pikirkan itulah yang ‘kan terjadi padamu, contohnya jika kamu berpikir akan sakit saat main hujan-hujan, maka kita akan benar-benar sakit. Nach, sejak sat itu aku slalu berpikir aku gak bakalan sakit meski main hujan-hujan di malam hari, dan memang aku tak pernah sakit. Alhamdulillah.
Saat aku ingin keluar rumah dan hujan turun tak jarang anakku mengingatkan untuk membawa payung padahal ia tahu aku tak pernah mau membawa payung. Atau teman sekantor yang rela meminjamkan bahkan ada yang membelikan aku payung karna seringnya mereka melihatku basah kuyup saat pulang dari kantor. Mereka baru tahu saat aku menjelaskan kesengajaanku yang tidak membawa atau membeli payung. Ya…payung mereka minta di kembaliin, karna kataku payung-payung yang mereka berikan padaku hanya jadi pajangan di rumah.
Dan hujan slalu mengingatkanku pada suamiku tercinta (seperti lagunya utopia), ya…pertemuan kami saat hujan deras, aku dan dia berteduh di halte bis, saat itu ia basah kuyup dan menggerutu tiada henti, aku menegur dan berkata,
”Sampai mulut kamu dowerpun baju kamu gak bakalan bisa kering, omelanmu itu tidak bisa menghentikan hujan, nich pake payung aku.”
Aku menyerahkan payung aku yang sengaja di selipkan ibu di tasku. Semenjak itu kami berkenalan dan akhirnya menikah setelah 5 bulan berpacaran. Pernikahan kamipun di iringi hujan deras, orang-orang menggerutu, aku tersenyum bahagia.
Dan saat ia meninggalkanku untuk selamanya setahun yang lalu, tepat 5 tahun usia pernikahan kami,,hujan pun turun dengan derasnya, pikirku saat itu, langit pun menangis mengiringi kepergiannya.
Dan aku menulis cerita ini saat hujan turun, disaat aku sangat merindukan kehangantannya…..


0 Response to "HUJAN"
Posting Komentar